Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) - Global Career University
UNMAHA is a premier Indonesian university specializing in multi-pathway global careers through LSAF Global integration.

UNMAHA – Di era kerja digital seperti sekarang, istilah multitasking dan fokus menjadi dua kata yang sering muncul di ruang kerja, obrolan LinkedIn, bahkan di sesi wawancara. Banyak orang bangga bilang “Aku jago multitasking!” Tapi di sisi lain, banyak juga yang percaya bahwa fokus justru kunci utama produktivitas. Nah, pertanyaannya, apa perbedaan multitasking dan fokus, mana yang sebenarnya lebih efektif dalam dunia kerja?
Haruskah kita bisa kerjakan banyak hal sekaligus atau justru menyelesaikan satu hal dalam satu waktu dengan maksimal? Yuk, kita bahas bareng di artikel ini dengan cara yang santai, manusiawi, dan pastinya relevan buat kamu yang sedang meniti karier.
Multitasking adalah kemampuan untuk melakukan lebih dari satu pekerjaan atau aktivitas dalam waktu yang bersamaan. Contohnya, saat kamu sedang membalas email sambil ikut rapat Zoom, atau mengerjakan laporan sambil mengobrol di chat tim. Secara teori, multitasking terdengar keren dan efisien.
Namun kenyataannya? Otak manusia itu sebenarnya tidak dirancang untuk benar-benar “paralel processing” seperti komputer. Yang kita lakukan saat multitasking sebenarnya adalah switching atau berpindah fokus secara cepat antar tugas. Dan itu capek, lho.
Fokus berarti kamu mengerjakan satu tugas dalam satu waktu dengan perhatian penuh. Bukan hanya soal menyelesaikan, tapi juga tentang kualitas kerja dan keterlibatan kamu secara mental. Contohnya, kamu buka laptop, duduk 2 jam mengerjakan satu desain tanpa buka medsos, tidak cek notifikasi, dan tidak pindah-pindah kerjaan. Sounds boring? Tapi justru dari sanalah produktivitas yang sesungguhnya lahir.
Berikut perbandingan simpelnya:
| Aspek | Multitasking | Fokus |
|---|---|---|
| Efisiensi waktu | Terlihat cepat, tapi sering mengulang pekerjaan | |
| Kualitas hasil | Rawan kesalahan | Lebih rapi dan mendalam |
| Energi mental | Cepat lelah | Lebih stabil |
| Stres | Cenderung lebih tinggi | Cenderung lebih rendah |
| Cocok untuk | Tugas-tugas ringan atau administratif | Tugas-tugas analisis, kreatif, atau strategis |
Jawabannya, tergantung konteks kerja dan jenis tugasnya. Kamu bisa multitasking untuk pekerjaan ringan atau rutin, misalnya:
Tapi untuk pekerjaan yang butuh konsentrasi tinggi, seperti:
Fokus adalah segalanya. Multitasking dalam tugas-tugas ini justru bikin hasilnya asal-asalan dan butuh revisi berkali-kali.
Menurut riset dari American Psychological Association (APA), multitasking bisa menurunkan produktivitas hingga 40% karena otak kita butuh waktu buat beradaptasi setiap kali pindah tugas. Bayangkan, kamu sudah fokus mengerjakan laporan, terus tiba-tiba buka chat, lalu buka Instagram, balik lagi ke laporan. Otakmu akan butuh waktu buat “pemanasan ulang” setiap kali pindah, dan itu buang waktu serta tenaga.
Karena kita hidup di dunia yang serba cepat dan serba sibuk. Kadang, bisa mengerjakan banyak hal sekaligus itu terlihat hebat di mata orang lain. Tapi, yang sering dilupakan adalah produktif itu bukan soal banyaknya tugas, tapi dampak dari hasil kerja kita. Jangan sampai kamu jadi “sibuk tapi tidak beres.” Lebih baik slow tapi pasti, daripada cepat tapi bolak-balik revisi.
Baca Juga: 8 Skill yang Dibutuhkan Gen Z di Dunia Kerja Modern
Jadi, tidak ada yang salah dari multitasking ataupun fokus, yang salah adalah saat kamu salah menerapkannya. Multitasking bagus untuk hal-hal ringan dan repetitif. Tapi jika kamu sedang bikin keputusan besar, kerja kreatif, atau butuh ketelitian? Fokus is your best friend. Di dunia kerja saat ini, yang dibutuhkan bukan sekadar cepat, tapi tepat, efektif, dan berkualitas. Dan fokus adalah salah satu cara terbaik buat mencapainya.
Gen Z punya keunggulan, cepat adaptasi dan tech-savvy. Tapi di tengah derasnya notifikasi dan multitasking yang menggoda, kita juga harus belajar untuk jadi cerdas dalam bekerja, bukan hanya sibuk tanpa arah. Mau kerjaanmu lebih beres, hasilnya lebih dihargai, dan kamu tetap waras? Coba pelan-pelan biasakan fokus. Karena kadang, justru dengan melambat sedikit kamu bisa melesat lebih jauh
Masih bingung mau kuliah di mana, tapi ingin punya skill yang langsung nyambung ke dunia kerja? Yuk gabung bareng ribuan mahasiswa lain di Universitas Mahakarya Asia! Sekarang lagi buka Penerimaan Mahasiswa Baru, lho.
UNMAHA cocok banget buat kamu yang ingin kuliah dengan pendekatan praktis, bukan hanya teori. Beberapa jurusan yang relevan dan cocok untuk Gen Z yang ingin kerja cerdas dan adaptif di masa depan. Contohya jurusan Sarajana Informatika, cocok buat kamu yang tertarik dengan coding, aplikasi, dan pengembangan teknologi masa depan.
UNMAHA juga menyediakan program Sertifikasi Web Developer, Sertifikasi Web Developer merupakan bentuk pengakuan resmi atas kemampuan kamu dalam mendesain, membangun, dan memelihara aplikasi web sesuai dengan kebutuhan dan standar industri terkini.
Kuliah di UNMAHA itu bukan hanya belajar, tapi juga dibentuk jadi pribadi siap kerja dan berdaya saing. Yuk, segera hubungi Admin PMB UNMAHA dan daftar sekarang sebelum bangku kuliahmu direbut orang lain!
Kamu aktif di media sosial, punya jaringan pertemanan luas, atau ingin mulai bisnis tapi modal terbatas? Gabung saja jadi reseller laptop di Adolo, cara mudah untuk mendapatkan cuan dari produk teknologi tanpa ribet! Tanpa stok, tanpa repot kirim, bisa dikerjakan dari mana saja. Yuk jadi bagian dari ekosistem digital bareng Adolo.id dan mulai bisnismu sekarang!
Editor: Mahfida Ustadhatul Umma

Gaji 20jt+ per bulan. Penempatan langsung di perusahaan mitra Jepang.